Indonesia dan Masyarakat Informasi, Implementasi teknologi, Kesenjangan digital dan teori Difusi Inovasi

Indonesia kini telah beranjak dan beradaptasi dengan begitu banyak perubahan menyangkut dengan kemajuan di era teknologi dimana semuanya serba digital dan serba cepat. Untuk itu, masyarakat harus siap dengan dinamika yang ada dengan segala kelebihan dan kekurangannya era kemudahan informasi dan komunikasi harus kita songsong.

Masyarakat informasi menurut Taru J. Wahyu adalah dimana semua negara berusaha agar seluruh pedesaan, lembaga pendidikan, lembaga masyarakat, lembaga pemerintah dan lain-lain terhubung dalam satu jaringan, sehingga interaksi dalam berbagai aspek di seluruh dunia dapat dilakukan secara mudah dan cepat melalui telematika. Masyarakat yang berbasis informasi diarahkan untuk menjadi landasan menuju masyarakat berbasis pengetahuan serta ekonomi berbasis pengetahuan.

Menurut Bambang Setiadi, masyarakat berbasis pengetahuan adalah suatu kemapanan ekonomi dengan basis pengetahuan dan informasi untuk proses produksi, distribusi, aplikasi dan konsumsi. Untuk membangun masyarakat informasi diperlukan adanya sistem pranata telekomunikasi dan informasi yang memadai yang berupa jaringan informasi yang memungkinkan seluruh masyarakat dapat mengakses informasi. Tidak boleh lagi diskriminasi dalam bidang informasi dan komunikasi.

Definisi tentang “masyarakat informasi” dari Deklarasi World Summit on the Information Society (WSIS) yang dilaksanakan di Genewa, 10-12 Desember 2003, bahwa masyarakat informasi yang berpusat pada masyarakat, inklusif dan berorientasi pada pembangunan adalah dimana setiap orang dapat membuat, mengakses, memanfaatkan dan berbagi informasi serta pengetahuan, yang memungkinkan setiap individu, komunitas dan masyarakat untuk mencapai potensi mereka dalam rangka mengembangkan pembangunan yang terus terpelihara dan mengembangkan kualitas hidup mereka, sebagaimana yang telah dideklarasikan di dalam tujuan dan prinsip-prinsip dari piagam PBB dan menghormati secara penuh serta menguatkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Beranjak pada hal diatas maka sangatlah jelas bahwa informasi menjadi salah satu variable yang berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan berkorelasi langsung dengan berbagai tingkatan kesejahteraan dan masyarakat dan kemajuan suatu bangsa. Jelas bahwa era informasi di Indonesia tidak bisa dilepaskan juga dari proses demokrasi yang kini sedang berjalan di Indonesia. Tampaknya semakin jelas bahwa  Indonesia memang sedang bergerak maju ke arah pengembangan masyarakat informasi yang mandiri , berkualitas , dan berdaya saing.

Tentu saja untuk mewujudkan hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali yang mesti dipersiapkan oleh negara ini untuk mewujudkan keadaan yang begitu ideal dalam tatanan dan tantangan kehidupan masyarakat masa kini. Implementasi teknologi yang ada di Indonesia masih kalah dan jauh tertinggal dibandingkan negara lainnya. Hal ini tentu saja menjadi penghambat dalam upaya menuju masyarakat informasi. Sementara aspek teknologi menjadi bagian penting dalam hal penyeberan dan pemerataan informasi kepada masyarakat.

Permasalahan lain yang kemudian muncul adalah adanya kesenjangan digital, yaitu kesenjangan (gap) antara individu, rumah tangga, bisnis, (atau kelompok masyarakat) dan area geografis pada tingkat sosial ekonomi yang berbeda dalam hal kesempatan atas akses teknologi informasi dan komunikasi/TIK (information and communication technologies/ ICT) atau telematika dan penggunaan internet untuk beragam aktivitas. Jadi, digital divide atau “kesenjangan digital” sebenarnya mencerminkan beragam kesenjangan dalam pemanfaatan telematika dan akibat perbedaan pemanfaatannya dalam suatu negara dan/atau antar Negara.

Banyak hal bisa dilakukan untuk mengurangi kesenjangan digital ini diantraanya dengan mempersiapkan masyarakat untuk lebih terampil dalam memahami berbagai bentukan informasi yang tersedia serta mampu mengoptimalkan penggunaannya untuk kepentingan dan kebutuhan yang positif terutama untuk menunjang kehidupannya secara komprehensif. Akhirnya kita harus kembali berpijak pada tepri difusi inovasi yang berbicara tentang bagaimana suatu kelompok manusia menerima datangnya ide-ide atau inovasi yang baru mengenai berbagai hal. Ada banyak fase yang harus dilalui karena umumnya masyarakat tidak akan begitu saja menerima hal baru tersebut.

Berpijak dari hal tersebut kita sama-sama berharap bahwa berbagai kepentingan yang berkaitan dengan kemajuan khususnya di era komunikasi dan informasi yang serba mudah seperti demikian dapat berjalan dan bermuara pada tujuan yang diharapkan oleh semua pihak.

Referensi : http://kesenjangandigitalbppn.blogspot.com/

http://wiyarsih.staff.ugm.ac.id/wp/?p=16

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s